Home | Saved News
(+) Save News



Prospek Indah Kiat (INKP) Cerah di 2026, Cermati Rekomendasi Analis



Prospek Indah Kiat (INKP) Cerah di 2026, Cermati Rekomendasi Analis

Reporter: Muhammad Alief Andri | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Prospek saham PT Indah Kiat Pulp and Paper Tbk (INKP) dinilai semakin solid menjelang 2026. 

Analis Fundamental BRI Danareksa Sekuritas, Abida Massi Armand, menyebut tahun depan akan menjadi titik penting bagi INKP setelah ekspansi pabrik barunya di Karawang mulai beroperasi penuh.

Abida menjelaskan bahwa 2026 akan menjadi tahun pertama Tahap I ekspansi Karawang berkontribusi secara maksimal.

Pabrik berkapasitas 2,4 juta ton per tahun itu diperkirakan beroperasi dengan utilisasi 50%–60% pada awal tahun, dan bisa meningkat hingga 90% di akhir tahun. 

Ekspansi ini dinilai transformasional karena mengalihkan porsi pendapatan INKP dari bisnis pulp dan kertas budaya ke segmen kertas industri yang lebih stabil dan bertumbuh.

“Volume dari pabrik baru ini akan menjadi pendorong pertumbuhan terbesar. INKP juga memiliki posisi biaya produksi paling rendah di industri, sehingga daya saingnya semakin kuat,” ujar Abida kepada Kontan, Jumat (28/11/2025).

Dengan utilisasi yang agresif, pabrik Karawang akan menjadi motor utama pendapatan INKP pada 2026. Abida memperkirakan pendapatan konsolidasi perusahaan akan mencapai US$ 3,787 miliar, dengan laba bersih menembus US$ 697 juta dan margin EBITDA di kisaran 30%.

Kenaikan volume produksi tersebut diproyeksikan mendorong pertumbuhan laba per saham (EPS) sekitar 8% secara tahunan.

Pemulihan harga pulp BHKP ke sekitar US$ 530 dolar per ton turut memperkuat prospek kinerja INKP. Permintaan dari Tiongkok yang kembali pulih dan berkurangnya stok global membuat pasar pulp lebih bergairah. 

Namun, pergeseran fokus bisnis INKP ke kertas industri membuat perusahaan semakin terlindungi dari volatilitas harga pulp.

“Setiap penurunan harga pulp US$ 100 dolar justru meningkatkan gross profit margin sekitar 58 basis poin. Ini menunjukkan kualitas margin INKP jauh lebih resilien dibandingkan kompetitor,” jelas Abida.

Dari sisi valuasi, saham INKP dinilai masih sangat menarik. Saat ini, saham INKP diperdagangkan pada price to earnings ratio sekitar 8,8 kali, jauh di bawah rata-rata emiten pulp dan kertas global yang berada di level 13,4 kali. 

 

“Diskon valuasi ini lebih karena persepsi pasar yang masih melihat INKP sebagai saham komoditas, padahal profil bisnis ke depan sudah lebih stabil,” tambahnya.

Menurut Abida, katalis utama penguatan saham INKP tahun depan adalah realisasi kinerja pabrik Karawang. Monetisasi kapasitas baru serta stabilitas margin akan sangat menentukan sentimen pasar. 

Selain itu, pengetatan pasokan pulp global juga berpotensi menguntungkan INKP, terutama jika terjadi supply-side shock dari penutupan pabrik berbiaya tinggi.

Meski demikian, Abida mengingatkan bahwa risiko eksekusi tetap perlu diwaspadai. Keterlambatan ramp-up atau pembengkakan biaya dapat mengganggu proyeksi laba.

Risiko lain muncul jika harga pulp BHKP turun di bawah US$ 490 dolar per ton, yang bisa memicu surplus produksi di Tiongkok dan menekan pasar.

Dengan kombinasi ekspansi besar dan pemulihan siklus komoditas, Abida menilai saham INKP sangat menarik untuk dikoleksi pada 2026. Ia memasang target harga Rp10.400 per saham.

“INKP menawarkan potensi capital gain yang kuat, didukung laba bersih US$ 697 juta dan EPS 1.973 rupiah di 2026,” tutup Abida.





Source Berita


© 2024 - DotNet HTML News - Using AngleSharp and .NET 8.0 LTS